Tajamnya duri duri ini
tersengkang diantara bahuku
tersilang antara selangka dada
bisanya duri ini
meragut seluruh kesakitan
ke dalam kotak fikir
kalut meracau
beku buntu
bagaimana pun
dari dukacita burung- burung senja
aku merayu padamu
rindu jauh langit tinggi
sesekali akal hilang
aku pasti tunduk kembali
dalam hamparan sejuta wangi
rumputan
aduhai sakitnya...
terhoyong hayang
terasa perit tusukan ini
aku pasti akan tumbang pula
terlentang ke belakang.
Sunday, November 08, 2009
Monday, November 02, 2009
TENTANG POHON DIRI
Akar itu niat serta akidah
batang pokok itu amalan juga ibadah
ranting itu dari cabang segala doa
daun itu doa terpilih terus kepada Nya
dari syafaat nabi atau para ulama
bunga itu tanda kasih tanda cinta
buah itu hasil dari segala usaha
tangkai itu usia hayat
condongnya ke arah kiblat
alam itu sebenarnya tanda ada
ada pencipta ada penjaga.
batang pokok itu amalan juga ibadah
ranting itu dari cabang segala doa
daun itu doa terpilih terus kepada Nya
dari syafaat nabi atau para ulama
bunga itu tanda kasih tanda cinta
buah itu hasil dari segala usaha
tangkai itu usia hayat
condongnya ke arah kiblat
alam itu sebenarnya tanda ada
ada pencipta ada penjaga.
PANAH YANG TERPACAK DI DADA
Ketika asyik
mencari diri
antara tidur dan jaga
berkali kali
dipanahnya lagi
bagai kilat dari angkasa
menyambar bagai halilintar
berapi terpancar di dadaku
terbelah dua
menggelepar
tapi hilang rasa
hanya cahaya
Inikah urusan
tentang hati
perihal cinta
sehingga segalanya
begitu mudah terguris
pilu sayu menangis
usah menjauh
isi alam bergetaran merusuh
memanggil indah namamu
sehingga lidah kasih mula tersentuh
aku sebenarnya sudah berkali kali jatuh.
mencari diri
antara tidur dan jaga
berkali kali
dipanahnya lagi
bagai kilat dari angkasa
menyambar bagai halilintar
berapi terpancar di dadaku
terbelah dua
menggelepar
tapi hilang rasa
hanya cahaya
Inikah urusan
tentang hati
perihal cinta
sehingga segalanya
begitu mudah terguris
pilu sayu menangis
usah menjauh
isi alam bergetaran merusuh
memanggil indah namamu
sehingga lidah kasih mula tersentuh
aku sebenarnya sudah berkali kali jatuh.
Monday, October 26, 2009
Saturday, October 24, 2009
PADA CINTA PERTAMA
Seandainya tertutup kalam
tenggelam pada segala keasyikan
ketakjuban
tidak perlu bercerita lagi
terjunlah kedalam hakikat
kenalilah diri
sebenar benar diri
itupun yang kau cari
merataplah
bergulinglah
merayulah
bernyanyilah
penuhkanlah ia
puji dan puja
hiasilah dirimu
secantik cantiknya
sewangi wanginya
kau dalam pelukan cinta
cahaya di dalam cahaya
cahaya yang selama ini
menjadi rahsia
kembali kepada rindu mula
rindu pada cinta yang pertama.
tenggelam pada segala keasyikan
ketakjuban
tidak perlu bercerita lagi
terjunlah kedalam hakikat
kenalilah diri
sebenar benar diri
itupun yang kau cari
merataplah
bergulinglah
merayulah
bernyanyilah
penuhkanlah ia
puji dan puja
hiasilah dirimu
secantik cantiknya
sewangi wanginya
kau dalam pelukan cinta
cahaya di dalam cahaya
cahaya yang selama ini
menjadi rahsia
kembali kepada rindu mula
rindu pada cinta yang pertama.
Tuesday, October 20, 2009
MELANKOLI DINIHARI
Ah... sedihnya malam ini
hujan setitis saja
menitis perlahan
betapa sunyinya di kegelapan
hanya cengkerik saja
yang berani bernyanyi
lagu luka hatiku ini
mereka semua pergi
melambai lambai tangan
meninggalkan bangku bangku setia
setangkai bunga kusam
diam tertinggal disana
bukan milik siapa siapa
aku melukiskan dia
tercengang cengang
melihat rerama putih
mencari warnanya
kemana hilang
alangkah sunyinya
mimpi ini
tanpa tetamu
berjalan sendiri
mencari pagi
... namamu
masih tertulis ditapak tangan ini
di mana terguris lama lukaku dulu.
hujan setitis saja
menitis perlahan
betapa sunyinya di kegelapan
hanya cengkerik saja
yang berani bernyanyi
lagu luka hatiku ini
mereka semua pergi
melambai lambai tangan
meninggalkan bangku bangku setia
setangkai bunga kusam
diam tertinggal disana
bukan milik siapa siapa
aku melukiskan dia
tercengang cengang
melihat rerama putih
mencari warnanya
kemana hilang
alangkah sunyinya
mimpi ini
tanpa tetamu
berjalan sendiri
mencari pagi
... namamu
masih tertulis ditapak tangan ini
di mana terguris lama lukaku dulu.
Wednesday, October 07, 2009
Tuesday, October 06, 2009
SANDARKAN DIRI KE DINDING INI
Kusandarkan diri pada dinding ini
hanya aku ingin sandarkan diriku dengan manja
telah begitu banyak beban tergalas ini
sarat tak terpikul lagi
penuh
malam ini
aku hanya ingin bercakap seperti biasa
seperti aku yang tidak mengerti apa- apa
dengan bahasa yang biasa
dari resam pengalaman
tangguh lagi pelupa
ingin ku sandarkan kesal ini
kebahu kekasihku yang sentiasa
memerhatikan
bila terkoyaknya iman
tersungkur lagi
berkali kali
meruntun harap
belas kasihan
kata hati aku kini hanyalah
dari sunyi pohon teruji
disana segalanya ada
ranting ranting
ulat ulat sebelum menjadi rerama
buruk sebelum kembali kesayap indahnya.
hanya aku ingin sandarkan diriku dengan manja
telah begitu banyak beban tergalas ini
sarat tak terpikul lagi
penuh
malam ini
aku hanya ingin bercakap seperti biasa
seperti aku yang tidak mengerti apa- apa
dengan bahasa yang biasa
dari resam pengalaman
tangguh lagi pelupa
ingin ku sandarkan kesal ini
kebahu kekasihku yang sentiasa
memerhatikan
bila terkoyaknya iman
tersungkur lagi
berkali kali
meruntun harap
belas kasihan
kata hati aku kini hanyalah
dari sunyi pohon teruji
disana segalanya ada
ranting ranting
ulat ulat sebelum menjadi rerama
buruk sebelum kembali kesayap indahnya.
Sunday, October 04, 2009
Tuesday, September 08, 2009
SIAPALAH AKU
Apa harus diucapkan lagi
senandungku kini berlagu sunyi
tenggelam dilamunan
hanyut sendiri
apa harus dikesalkan kini
puisi luka tidak bermakna
hanya lontaran kata- kata
tanpa lagu hilang asonansinya
hitam putih alam ini
hanya tinggal debu dan pasir
tidak henti beterbangan
lalu hilang dari pandangan
ombak pantai ku bisu
meninggalkan seribu deru
meronta kesakitan
sepi sebelum ada sesiapa
diam untuk tidak lagi bertanya
untuk menyelam
dalam lautan ikan -ikan
siapalah aku
antara bayangan pepohonan
di lapisan hati mereka
tidak lagi bermakna
hanya tinggal naratif cinta.
senandungku kini berlagu sunyi
tenggelam dilamunan
hanyut sendiri
apa harus dikesalkan kini
puisi luka tidak bermakna
hanya lontaran kata- kata
tanpa lagu hilang asonansinya
hitam putih alam ini
hanya tinggal debu dan pasir
tidak henti beterbangan
lalu hilang dari pandangan
ombak pantai ku bisu
meninggalkan seribu deru
meronta kesakitan
sepi sebelum ada sesiapa
diam untuk tidak lagi bertanya
untuk menyelam
dalam lautan ikan -ikan
siapalah aku
antara bayangan pepohonan
di lapisan hati mereka
tidak lagi bermakna
hanya tinggal naratif cinta.
Wednesday, September 02, 2009
DALAM DIAM DIAM
Lain kali tak perlulah
mereka reka sesuatu cerita
atau sesuatu jenama
formula baru konon
kalau sememangnya
nak buat sesuatu
yang sebenarnya tidak perlu
menipu begitu
kesiannya mereka
dalam diam diam
tertipu rupanya
yang buta ilmu
sebenarnya
pakailah topeng apa pun
kami memang dah tau
hitam yang datang dari dalam.
mereka reka sesuatu cerita
atau sesuatu jenama
formula baru konon
kalau sememangnya
nak buat sesuatu
yang sebenarnya tidak perlu
menipu begitu
kesiannya mereka
dalam diam diam
tertipu rupanya
yang buta ilmu
sebenarnya
pakailah topeng apa pun
kami memang dah tau
hitam yang datang dari dalam.
RINDUKU
Biar rindu menjadi buku
bila kau pulang
itulah hadiahku
tataplah ulang berulang
sampai kau jemu
sayangku
lepaskanlah!
bila kau pulang
itulah hadiahku
tataplah ulang berulang
sampai kau jemu
sayangku
lepaskanlah!
LAMUNAN
Hanyalah ingatan
yang sering ku hanyutkan
jauh dari indah itu
dedaun kekeringan
di padang padang perhitungan
terlentang kejang
kehancuran ku relakan
apa yang kau tinggalkan hanyalah
seketul hati sekepal cinta
apa kau fikir ia akan lenyap hilang
begitu mudah dari ingatan
sehingga bertahun tahun mimpi itu
mempermainkan
keindahan
hanyalah sia sia
tidak pernah menjadi nyata
tidak pernah tumbuh pun
mana mungkin
menjadi bunga
terima kasih kawan
aku sudah biasa dihanyutkan
bila tidak diperlukan
bila tidak ada kepentingan
yang sering ku hanyutkan
jauh dari indah itu
dedaun kekeringan
di padang padang perhitungan
terlentang kejang
kehancuran ku relakan
apa yang kau tinggalkan hanyalah
seketul hati sekepal cinta
apa kau fikir ia akan lenyap hilang
begitu mudah dari ingatan
sehingga bertahun tahun mimpi itu
mempermainkan
keindahan
hanyalah sia sia
tidak pernah menjadi nyata
tidak pernah tumbuh pun
mana mungkin
menjadi bunga
terima kasih kawan
aku sudah biasa dihanyutkan
bila tidak diperlukan
bila tidak ada kepentingan
Tuesday, August 11, 2009
HUJAN PAGI INI
Hujan pagi
telah kau labuhkan
lamunan
lantai dan lautan
jauh ingatan silam
tingginya pendakian ini
ranjau berduri
seribu kesakitan
sepi kian terisi
dari kata-kata terkunci
tidak terlafaskan
indahnya warna pertemuan
segalanya ingin kulukiskan
aduhai
bulan kesiangan
dan langit masih dipenuhi
bintang- bintang berkelipan
di luar jendela
bayu mula menyapa
tempias khabar berita.
telah kau labuhkan
lamunan
lantai dan lautan
jauh ingatan silam
tingginya pendakian ini
ranjau berduri
seribu kesakitan
sepi kian terisi
dari kata-kata terkunci
tidak terlafaskan
indahnya warna pertemuan
segalanya ingin kulukiskan
aduhai
bulan kesiangan
dan langit masih dipenuhi
bintang- bintang berkelipan
di luar jendela
bayu mula menyapa
tempias khabar berita.
Monday, August 03, 2009
SEORANG PELUKIS
( Puisi Buat Aris Aziz dan Pelukis- pelukis Pasar Budaya)
Terus bergelut
diantara keterbatasan upaya
melahirkan sketsa suasana
bagai daun-daun harapan
berterbangan hanya rasa
dari seluruh coretan alam
di padang padang pengalaman
hanya warna-warna kering
kian membeku
sekadar kemampuan
apalah daya
tertewas lagi di arena
tenggelam dalam tepukan
apalah ertinya kini
aku sudah tidak berdaya
terpaku terpanggang
diantara ranjau perhitungan
terus mengenggam sepantasnya
berus yang patah
tertikam berdarah menunggu rebah
tapi bukan bermakna
untuk terus dikalungkan indah
kerana api didada ini
akan terus membakar
belantara mimpi kita
selamanya
kerana waktu itu
sangat berharga
walau pun payah untuk dijeda
seluruh kesakitan
begitu banyak luka- luka
ingin kulemparkan sejauhnya
dari desir sedu hela
tanggismu kekasih
aku sudah begitu lama tersiksa
dan aku sudah terlalu tua
disanggar hitam putih penjara.
Terus bergelut
diantara keterbatasan upaya
melahirkan sketsa suasana
bagai daun-daun harapan
berterbangan hanya rasa
dari seluruh coretan alam
di padang padang pengalaman
hanya warna-warna kering
kian membeku
sekadar kemampuan
apalah daya
tertewas lagi di arena
tenggelam dalam tepukan
apalah ertinya kini
aku sudah tidak berdaya
terpaku terpanggang
diantara ranjau perhitungan
terus mengenggam sepantasnya
berus yang patah
tertikam berdarah menunggu rebah
tapi bukan bermakna
untuk terus dikalungkan indah
kerana api didada ini
akan terus membakar
belantara mimpi kita
selamanya
kerana waktu itu
sangat berharga
walau pun payah untuk dijeda
seluruh kesakitan
begitu banyak luka- luka
ingin kulemparkan sejauhnya
dari desir sedu hela
tanggismu kekasih
aku sudah begitu lama tersiksa
dan aku sudah terlalu tua
disanggar hitam putih penjara.
Friday, July 24, 2009
PUISI BUAT CAHAYA KEKASIH
Kutulis puisi ini
ketika cahaya itu
menerjah malamku
sehingga aku terjaga
dan melemparkan diriku
diantara penjuru kenangan
seribu peristiwa
cahaya kekasih
begitu bagus nama itu
selembut suria pagi
bunga-bunga unggu
dari rumput kehidupan
dan kita begitu mesra
walau pun cahaya itu terlalu jauh
kelewatan diufuk senja
mengapakah bicara kau kutunggu
terlena lewat dinihari
kita tidak ada apa apa
dan kita bukan sesiapa
tetapi kau langit yang tinggi
dan disana harus ada
burung burung berterbangan
menghiasi indah hari
laut sunyi hati ini
alangkah...
takutnya bermimpi.
ketika cahaya itu
menerjah malamku
sehingga aku terjaga
dan melemparkan diriku
diantara penjuru kenangan
seribu peristiwa
cahaya kekasih
begitu bagus nama itu
selembut suria pagi
bunga-bunga unggu
dari rumput kehidupan
dan kita begitu mesra
walau pun cahaya itu terlalu jauh
kelewatan diufuk senja
mengapakah bicara kau kutunggu
terlena lewat dinihari
kita tidak ada apa apa
dan kita bukan sesiapa
tetapi kau langit yang tinggi
dan disana harus ada
burung burung berterbangan
menghiasi indah hari
laut sunyi hati ini
alangkah...
takutnya bermimpi.
Monday, July 20, 2009
LANGIT HIJAU
Jangan lupa malam hijau
dimana bintang dan bulan berkaca
bulan hijau
jangan lupa ketika sayapmu
mengorak lembut
seluas langit
bertebaran
jutaan permata
berguguran
diantara selimut alam
langit tinggi rahsia
terbentang selendang putihmu
cakerawala terpaku
terhenti saat dan waktu
langit hijau
telah terbuka semua pintu pintu
sampai kemari
segumpal awan meniti perlahan
melintasi rindu
bercerminkan indah
salam perkenalan
pengembara.
dimana bintang dan bulan berkaca
bulan hijau
jangan lupa ketika sayapmu
mengorak lembut
seluas langit
bertebaran
jutaan permata
berguguran
diantara selimut alam
langit tinggi rahsia
terbentang selendang putihmu
cakerawala terpaku
terhenti saat dan waktu
langit hijau
telah terbuka semua pintu pintu
sampai kemari
segumpal awan meniti perlahan
melintasi rindu
bercerminkan indah
salam perkenalan
pengembara.
Friday, June 19, 2009
Thursday, June 18, 2009
SUNGAI KEHIDUPAN
Inilah sungai hidupku
yang mengalir menyusuri
tebing-tebing sengsara
runtuh diatasku
sisa-sisa
tenggelam timbul
dihanyutkan jauh
keruh air di muara
sungai kehidupan ini
merengkuh nekadku
medan perjuangan
penuh warna
manis kata-kata
hanya laluan ini
membuat aku
lahir bersama parut
penuh dibadan
dan aku tidak akan menoleh lagi
dan aku akan lebih tidak peduli
walau telah jauh dihanyutkan
senda nyanyi ikan-ikan
bercengkerama
maafkan aku
aku tidak bersalah
dan aku bukanlah seorang penjenayah.
yang mengalir menyusuri
tebing-tebing sengsara
runtuh diatasku
sisa-sisa
tenggelam timbul
dihanyutkan jauh
keruh air di muara
sungai kehidupan ini
merengkuh nekadku
medan perjuangan
penuh warna
manis kata-kata
hanya laluan ini
membuat aku
lahir bersama parut
penuh dibadan
dan aku tidak akan menoleh lagi
dan aku akan lebih tidak peduli
walau telah jauh dihanyutkan
senda nyanyi ikan-ikan
bercengkerama
maafkan aku
aku tidak bersalah
dan aku bukanlah seorang penjenayah.
Thursday, June 04, 2009
RANJAU TAJAM
Aku kembali mengenang
tempat-tempat indah dulu
taman-taman kita
bunga mekar
langit biru
masih sunyi
bersama pohon-pohon tinggi
terus membisu
menyendiri
aku terus melakarkannya
bersama warna dukacita
masih berdarah
masih dipenuhi ranjau-ranjau tajam
kehidupan hari ini
semakin sarat dan kejam
hujan awan
burung- burung
dan diriku dilupakan
rumput resam
menjadi mangsa
dan sering tertikam
tempat-tempat indah dulu
taman-taman kita
bunga mekar
langit biru
masih sunyi
bersama pohon-pohon tinggi
terus membisu
menyendiri
aku terus melakarkannya
bersama warna dukacita
masih berdarah
masih dipenuhi ranjau-ranjau tajam
kehidupan hari ini
semakin sarat dan kejam
hujan awan
burung- burung
dan diriku dilupakan
rumput resam
menjadi mangsa
dan sering tertikam
Wednesday, June 03, 2009
Saturday, April 25, 2009
BERIKAN AKU SEDIKIT RUANG
Perjalanan pendek ini
harus kuisi dengan segalanya
aku terlalu penat untuk mencorakkan warna
supaya payahku ini menjadi lebih mudah
lebih indah
hanya api yang sentiasa membakar dadaku
tetapi aku hanya menjadi penunggu
pada unggun api yang membara
jauh pula dari sesiapa
jauh dari pantai itu
tiada siapa yang dapat menerka
bahawa ruang sekecil ini
adalah ruang terakhir buatku
menyelinap masuk bersama luka- luka
juga tekad sering saja dipatahkan
kemunculannya di ingatan
inspirasi yang hilang
diam sebentar
hanya memerhatikan tingkah alam
berlegar pantas
sering berubah berlalu dengan gundah
dan kita akan terus dilupakan
hanya sepotong nama
dari yang terkebawah
berikanlah aku jawapan penyudah
terakhir dan terindah.
harus kuisi dengan segalanya
aku terlalu penat untuk mencorakkan warna
supaya payahku ini menjadi lebih mudah
lebih indah
hanya api yang sentiasa membakar dadaku
tetapi aku hanya menjadi penunggu
pada unggun api yang membara
jauh pula dari sesiapa
jauh dari pantai itu
tiada siapa yang dapat menerka
bahawa ruang sekecil ini
adalah ruang terakhir buatku
menyelinap masuk bersama luka- luka
juga tekad sering saja dipatahkan
kemunculannya di ingatan
inspirasi yang hilang
diam sebentar
hanya memerhatikan tingkah alam
berlegar pantas
sering berubah berlalu dengan gundah
dan kita akan terus dilupakan
hanya sepotong nama
dari yang terkebawah
berikanlah aku jawapan penyudah
terakhir dan terindah.
Sunday, April 19, 2009
TERNYATA KAU MASIH ADA
Petang teduh
sendirian di kotak hitam kamarku ini
menunggu sakit lain datang
kepanasan dan diam
sunyi selepas ditinggalkan mereka
suara azan sayup memanggil dikejauhan
sehingga aku terpanggil ke zaman kelamku
kita masih diberi peluang
membetulkan kusutnya
jalan ini penuh warna
malam tadi
seorang teman telah terkoyak dagunya
dan seorang yang lain
telah terjun dari atas highway ke jalan bawah
berlumuran darah
luka-luka
inikah kebahagiaan
kepuasan yang mereka cari
ketika muda ini
ingin tunjuk berani
hebat seorang lelaki
ya kita tetap di beri peluang
untuk kali yang keberapa
seterusnya
kerana kau masih baik pada kami
kau masih datang mengadu
sakit peritnya dari luka luka itu
kau masih tersenyum tumpul
menagih simpati
dan hari ini
kau masih ada
untuk terus bertanya
terus hidup
terus dimaafkan
dan untuk terus kami cintai
selamanya.
sendirian di kotak hitam kamarku ini
menunggu sakit lain datang
kepanasan dan diam
sunyi selepas ditinggalkan mereka
suara azan sayup memanggil dikejauhan
sehingga aku terpanggil ke zaman kelamku
kita masih diberi peluang
membetulkan kusutnya
jalan ini penuh warna
malam tadi
seorang teman telah terkoyak dagunya
dan seorang yang lain
telah terjun dari atas highway ke jalan bawah
berlumuran darah
luka-luka
inikah kebahagiaan
kepuasan yang mereka cari
ketika muda ini
ingin tunjuk berani
hebat seorang lelaki
ya kita tetap di beri peluang
untuk kali yang keberapa
seterusnya
kerana kau masih baik pada kami
kau masih datang mengadu
sakit peritnya dari luka luka itu
kau masih tersenyum tumpul
menagih simpati
dan hari ini
kau masih ada
untuk terus bertanya
terus hidup
terus dimaafkan
dan untuk terus kami cintai
selamanya.
Wednesday, March 25, 2009
BERTANYA PADA LANGIT
Kulihat langit sepiku
mendung berarakan
kucari rinduku
didalam renyai hujan
kucuba menahannya
tidak berdaya
sehingga aku semakin
kebasahan
kucuba mentafsir
langit resahku
tetapi dentum petir
melepaskan dendam
seribu tusukan
datang menerkam
kubiarkan diriku
terpanggang kesakitan di sana
bicara tergantung di langit
kembang terdiam di kolam
kelir angin meramasnya
garang mencincang
manis mimpi dari ingatan.
mendung berarakan
kucari rinduku
didalam renyai hujan
kucuba menahannya
tidak berdaya
sehingga aku semakin
kebasahan
kucuba mentafsir
langit resahku
tetapi dentum petir
melepaskan dendam
seribu tusukan
datang menerkam
kubiarkan diriku
terpanggang kesakitan di sana
bicara tergantung di langit
kembang terdiam di kolam
kelir angin meramasnya
garang mencincang
manis mimpi dari ingatan.
Tuesday, March 10, 2009
LAKARAN HARAPAN

Kutulis puisi ini
ketika malam terlena
dipelukan
ketika rindu berbungakan bulan
bercalarkan awan
ku gemari tipis gerbang lembut
rambutmu dihuraikan angin
wanginya mengharum
bersama keringnya daun peristiwa
kekuningan
aku terus bergelut
bermandi warna
aku terkenangkan hutan hijaumu
juga tangis gerimis dulu
mula menitis perlahan
pada condongnya bebunga lalang
namun aku pasti memaafkan
bertebaranlah
aku yang mula menyendiri
diam perlahan melakarkan nya
dari tinta hitam warna sunyi
melayari damai jauh di sudut hati
tidak berbaju namun
aku masih memeluk mimpiku yang dulu
sekemasnya.
Monday, March 02, 2009
Friday, February 20, 2009
CORETAN MALAM
Kubaca kembali
cebisan hatiku yang hancur ini
kulukis semula wajah- wajah luka dulu
semakin jauh kau pergi
bertambah resah onarku mencari parutnya
kuketuk pintu malam
dengan bayangan hampa
berjalan bertanya
mencarimu dimimpi
hanya aku kini
tinggal sendiri memetik sunyi
tanpa cahaya tanpa sesiapa
sakit pun menitis lagi
berdarah semula
sehingga begitu banyak
warnanya tumpah.
cebisan hatiku yang hancur ini
kulukis semula wajah- wajah luka dulu
semakin jauh kau pergi
bertambah resah onarku mencari parutnya
kuketuk pintu malam
dengan bayangan hampa
berjalan bertanya
mencarimu dimimpi
hanya aku kini
tinggal sendiri memetik sunyi
tanpa cahaya tanpa sesiapa
sakit pun menitis lagi
berdarah semula
sehingga begitu banyak
warnanya tumpah.
Wednesday, February 04, 2009
POSTER DAN ANTOLOGI PUISI BANTUAN UNTUK ANAK- ANAK PALESTIN
Thursday, January 29, 2009
MALAM DAN MIMPI
Malam ini aku termanggu di meja
melihat timbunan derita
berlonggokan di depanku
melimpah
bersepah
apa yang harus ku lakukan
sedang ia semakin kuat membungkam
menerjah gelisahku selamanya
terkepong oleh hilai ketawa
akulah kelucuan itu
bermimpi di siang hari
semakin jauh pula dari indah
hanya ilusi
biarkanlah
aku sekadar melukis
peristiwa
kenangan lalu
biarlah ia terpendam
diam diingatan
tanpa catatan detik dan waktu.
melihat timbunan derita
berlonggokan di depanku
melimpah
bersepah
apa yang harus ku lakukan
sedang ia semakin kuat membungkam
menerjah gelisahku selamanya
terkepong oleh hilai ketawa
akulah kelucuan itu
bermimpi di siang hari
semakin jauh pula dari indah
hanya ilusi
biarkanlah
aku sekadar melukis
peristiwa
kenangan lalu
biarlah ia terpendam
diam diingatan
tanpa catatan detik dan waktu.
Tuesday, January 20, 2009
PAGI INDAH

Selepas pulang dari laut
mengutip ketam dan lumut
larut malam itu
semua kulit- kulitku mengelupas
terasa aku menjadi lain
berwajah lain
menjadi orang baru
menukar arah bangunku
membetulkan lunjur
bingkas berdiri
bersama segengam api
dan harapan menyala
tajam mataku kesana
terus meneliti setiap inci
setiap patah dan baris kata-kata
aku ingin terus melangkah dan berlari
bersama kau yang lahir dari diriku
sunyi puisi
dan taburan bunga dari hati lara
pagi ini
kita masih dapat mendengar burung bertanya
dan membisikan sesuatu dengan gembira
hanya kau yang tahu
semua rahsia itu
mencurah
hanya untuk kamu
mentafsirkan nya dari manis pengalaman
dari pekat hijau daun di hutan.
Mayang Sari,
Port Dikson.
Sunday, January 18, 2009
Berjalan- jalan di bandar Melaka hari minggu.
Penjajah meninggalkan meriam mereka.Apa maksudnya meriam itu?`Kalau melawan atau berdegil inilah bahananya`.
Diatas bukit Kota Al Famosa ini ada pengemis Melayu yang menyanyi sambil bermain musik, menadah topi mengharap belas kasihan simpati. Di sini juga ada pelukis yang sombong, marah kerana saya ingin mengambil gambarnya,jadi saya membatalkan niat itu.Mulanya saya sangat gembira kerana dia pun pelukis macam saya.Saya menghulurkan tangan tanda salam perkenalan sambil memperkenalkan diri, tapi dia tidak tahu berbudi bahasa dan tidak mahu bersalam dengan saya walau pun saya menghulurkan tangan merendah diri.` katanya untuk apa, saya tidak ada kena mengena dengan awak!. Dia telah memalukan saya dikhalayak itu,saya berlalu dan rasa terhina sekali tambahan pula ada isteri saya dan ramai orang disitu,sekurang- kurangnya dia menghormati saya yang lebih tua.Saya lihat Lukisannya pun hanyalah lukisan fotostat hitam putih yang hanya ditouchup dengan warna.Hanya ada sebuah lukisan yang memang dilukis sebagai pelindung, tetapi memang lukisan yang tidak berkualiti.Nampaknya secara peribadi saya kesal sekali datang ke situ pada hari itu dan sikap dan pendirian seperti langit dengan bumi.Mungkin menguji kesabaran saya dan ternyata sekali dari rupanya yang berpakaian selekih dan berambut panjang sangat menyakitkan hati saya.Sombongnya dia berjalan diatas muka bumi Allah ini.Tidak sedarkah diri semuanya hanya pinjaman sebentar saja. Sekurang- kurangnya saya dapat sedikit pengajaran dan sedikit ilmu.
Thursday, January 15, 2009
AIRMATA DARAH
Langit masih merah membakar
terhimpit di celah ledakan maut
Gaza bergolak lagi
terus dihujani ledakan
dibanjiri darah
tanggis terkulai dipangkuan
para shuhadah
tanggisan anak-anak kecil merintih
mengalirkan airmata darah
diantara kerikil, ceracak dan jerigi
terus terbiar parah
hidup atau mati
siapa peduli mimpi
pertimbangan sudah hilang
kemanusiaan bertukar
menjadi binatang
dunia hanya terdiam sepi
tidak mengenal belas simpati
alangkah kejamnya Yahudi Zionis
anak- anak putih bersih
tidak pernah mengerti apa-apa
hilang bersama debu
lenyap dari pandangan
hanya doa buat saudara
terpenjara tanpa suara tidak bermaya
namun tanggisan jauh itu
sentiasa meronta mengelepar
memanggil manggil resahku bertanya
di mana pahlawan hebatku dulu
bersilang kilas pedang tajammu
memangkas tangkas seribu seteru
mayat-mayat bergelimpangan
tanpa pusara
diam terpejam
begitulah kehidupan
keangkuhan diri
perhitungan dalam perjuangan
meja cerita tidak lagi bermakna
hancurkan saja zionis durjana
jangan lagi diberi muka
layaknya dia haiwan kejam
berwajah serigala
hatinya hitam
dengkinya tidak mungkin lagi padam
sudah terlalu lama kita membiarkan
senda dibungkus kesabaran silam.
terhimpit di celah ledakan maut
Gaza bergolak lagi
terus dihujani ledakan
dibanjiri darah
tanggis terkulai dipangkuan
para shuhadah
tanggisan anak-anak kecil merintih
mengalirkan airmata darah
diantara kerikil, ceracak dan jerigi
terus terbiar parah
hidup atau mati
siapa peduli mimpi
pertimbangan sudah hilang
kemanusiaan bertukar
menjadi binatang
dunia hanya terdiam sepi
tidak mengenal belas simpati
alangkah kejamnya Yahudi Zionis
anak- anak putih bersih
tidak pernah mengerti apa-apa
hilang bersama debu
lenyap dari pandangan
hanya doa buat saudara
terpenjara tanpa suara tidak bermaya
namun tanggisan jauh itu
sentiasa meronta mengelepar
memanggil manggil resahku bertanya
di mana pahlawan hebatku dulu
bersilang kilas pedang tajammu
memangkas tangkas seribu seteru
mayat-mayat bergelimpangan
tanpa pusara
diam terpejam
begitulah kehidupan
keangkuhan diri
perhitungan dalam perjuangan
meja cerita tidak lagi bermakna
hancurkan saja zionis durjana
jangan lagi diberi muka
layaknya dia haiwan kejam
berwajah serigala
hatinya hitam
dengkinya tidak mungkin lagi padam
sudah terlalu lama kita membiarkan
senda dibungkus kesabaran silam.
Friday, January 09, 2009
Tuesday, December 30, 2008
OMBAK DAN BATU
Ku layarkan bahtera ini
jauh darimu
jauh dari mimpi indah kita
ketika hujan malam menanggis
dan kegelapan ini menenggelamkan
semua harapanku
padam
semakin jauh aku mengembara
bersama warna- warnaku yang luka
hingga kesakitan ini
harus ku tanggung sendiri
selamanya begini
di manakah kamu bersembunyi
keindahan ini sebenarnya
telah kau bawa pergi
jauh ke dalam sunyi
di dasar laut tidak bertepi
di manakah karang indah dulu
dan anak- anak ikan kecil berkejaran rindu
semuanya rindu
terlalu rindu pada suaramu
suatu waktu dulu
tidak pernah jemu
kau memanggil manggilnya
berkali-kali
ketika ombak memukul batu
dan ia pun berkecai
relai dihadapanku.
jauh darimu
jauh dari mimpi indah kita
ketika hujan malam menanggis
dan kegelapan ini menenggelamkan
semua harapanku
padam
semakin jauh aku mengembara
bersama warna- warnaku yang luka
hingga kesakitan ini
harus ku tanggung sendiri
selamanya begini
di manakah kamu bersembunyi
keindahan ini sebenarnya
telah kau bawa pergi
jauh ke dalam sunyi
di dasar laut tidak bertepi
di manakah karang indah dulu
dan anak- anak ikan kecil berkejaran rindu
semuanya rindu
terlalu rindu pada suaramu
suatu waktu dulu
tidak pernah jemu
kau memanggil manggilnya
berkali-kali
ketika ombak memukul batu
dan ia pun berkecai
relai dihadapanku.
Wednesday, December 24, 2008
TAWAKAL SAJALAH ANAKKU AE, AA
Semalam kata doktor
anakku AE
tidak dapat di selamatkan lagi
jantungnya sudah bengkak
ubat ini pun hanya untuk mengawalnya saja
bukan untuk menyembuhkan
dia memang sakit thalassemia sejak kecil lagi
dulu pun doktor kata umurnya sampai dua puluh saja
limpanya juga sudah dibuang terus
tidak cukup darah
tapi umurnya kini sudah lebih dari itu
tawakal sajalah
Hari ini anakku AA
pula dapat masuk uitm Dungun
dia sungguh gembira tidak terkata
Syukur alhamdullillah
tapi agak gementar kerana jauh dari keluarga
harus hidup berdikari sendiri
jauh pula dari abangnya AE
bantal peluk malamnya
aku jadi termanggu hari ini
termenung jauh diantara mereka
garis
antara langit dan lautan
antara gembira dan kesakitan
antara yang pergi dan yang ditinggalkan
siapalah kita
di antara begitu banyak bahasa rahsia
tidak terungkaikan
serta dalam makna tersimpan
hanya Dia yang menentukan
kedudukkan cakrawala dan
begitu banyak bintang- bintang
bertaburan.
anakku AE
tidak dapat di selamatkan lagi
jantungnya sudah bengkak
ubat ini pun hanya untuk mengawalnya saja
bukan untuk menyembuhkan
dia memang sakit thalassemia sejak kecil lagi
dulu pun doktor kata umurnya sampai dua puluh saja
limpanya juga sudah dibuang terus
tidak cukup darah
tapi umurnya kini sudah lebih dari itu
tawakal sajalah
Hari ini anakku AA
pula dapat masuk uitm Dungun
dia sungguh gembira tidak terkata
Syukur alhamdullillah
tapi agak gementar kerana jauh dari keluarga
harus hidup berdikari sendiri
jauh pula dari abangnya AE
bantal peluk malamnya
aku jadi termanggu hari ini
termenung jauh diantara mereka
garis
antara langit dan lautan
antara gembira dan kesakitan
antara yang pergi dan yang ditinggalkan
siapalah kita
di antara begitu banyak bahasa rahsia
tidak terungkaikan
serta dalam makna tersimpan
hanya Dia yang menentukan
kedudukkan cakrawala dan
begitu banyak bintang- bintang
bertaburan.
Sunday, December 21, 2008
MESYUARAT AGUNG KALAM KE 14
Saturday, December 20, 2008
LUKISAN HATI
Telah berputik sedikit warna di kambas rasa
aku menjadi bersemangat semula
untuk melakarkan seribu makna
tentang payah hatiku yang luka
tersingkir ke tepi
hingga menjadi begitu hina
berbunga sunyi
walaupun tidak perlu diingat lagi
api yang mengepung rinduku ini
aku tidak mungkin lari
dari mendengar hujan bernyanyi
aku harap ia akan segera hanyutkan
tenggelam jauh di laut terbenam
ke dasar paling dalam
hilang dari logika nyata
hanya mimpi
tapi mengapa hari ini
lukisan ku sudah mula hilang indahnya
hingga gagak- gagak pun menjerit meronta.
aku menjadi bersemangat semula
untuk melakarkan seribu makna
tentang payah hatiku yang luka
tersingkir ke tepi
hingga menjadi begitu hina
berbunga sunyi
walaupun tidak perlu diingat lagi
api yang mengepung rinduku ini
aku tidak mungkin lari
dari mendengar hujan bernyanyi
aku harap ia akan segera hanyutkan
tenggelam jauh di laut terbenam
ke dasar paling dalam
hilang dari logika nyata
hanya mimpi
tapi mengapa hari ini
lukisan ku sudah mula hilang indahnya
hingga gagak- gagak pun menjerit meronta.
Thursday, December 18, 2008
MPR MINGGU PENULIS REMAJA DI CM KUALA LUMPUR.
GRUP BACA PUISI KAKI LIMA CENTRAL MARKET, KUALA LUMPUR.
WS RENDRA DI SUDUT PENULIS, DBP. ACARA:PENGUCAPAN PUISI DUNIA KL.


Imbas kembali kunjungan Ws Rendra ke DBP.Sudut Penulis. Dalam Gambar saya, Ws Rendra dan Siti Zaleha Hashim. Kini Sudut Penulis di DBP bangunan lama ini pun sudah tak ada lagi.
Berikut dari kunjungan Ws Rendra itu saya sebagai Kariografer persembahan dan pembaca puisi membuat persembahan di Central Market bersama persatuan Penulis Kuala Lumpur Rantai kini KALAM. Adaptasi dari Puisi Kaktus- kaktus karya Kemala.Dalam gambar kawan- kawan lama Azim Salleh, Marjan, Taib Nordin,Amarruzati,Ratnawati Jamil,Azlan Sulong, Oci, Suzana , Kamaruddin, Asimo S, Chulan Chin dan lain- lain begitu komitmen dengan peranan masing- masing dan persembahan kami itu dapat pujian dan sanjungan dari Ws Rendra, best!.
Turut hadzir pada malam itu Dato Seri Anwar Ibrahim.( Tim. Perdana Menteri).
Monday, December 08, 2008
TEH DAN HUJAN
Saturday, December 06, 2008
SENJA SENGSARA
Petang yang diam
sendiri mendengar sunyi bernyanyi
sayu tapi jauh
aku ditinggalkan senja
diatas sejadah hijau berbunga
mengadap kerajaan besarMu
sekerdil diri
tersungkur lama
meratapi
luka- luka lagi
berdarah melimpah
namun engkau jadi penentu
keindahan di sini hanya seketika
dan engkau yang Maha tahu
apa yang bakal berlaku
dari duri yang menghiasi
calar diriku ini
hanya sedikit luka
pun aku tidak dapat menepis
sengsara.
sendiri mendengar sunyi bernyanyi
sayu tapi jauh
aku ditinggalkan senja
diatas sejadah hijau berbunga
mengadap kerajaan besarMu
sekerdil diri
tersungkur lama
meratapi
luka- luka lagi
berdarah melimpah
namun engkau jadi penentu
keindahan di sini hanya seketika
dan engkau yang Maha tahu
apa yang bakal berlaku
dari duri yang menghiasi
calar diriku ini
hanya sedikit luka
pun aku tidak dapat menepis
sengsara.
Sunday, November 30, 2008
Monday, November 24, 2008
Thursday, November 20, 2008
PEMERGIAN
Keberangkatan ini pun tertulis lagi
tertanya-tanya siapa
malah bertimpa- timpa
akur oleh undangan jauh
tidak terduga
tidak tangguh
gerombolan ini pun berlalu pergi
dalam tenang rindu
tersenyum teduh
meninggalkan daerah kacau ini
hingga kami menggelepar
dikoyak rindu
digoncang sendu
berzikir riuh
hingga terlepas cinta dari pelukan
terlerai genggaman
terungkai ikatan
kekang satu demi satu
berturutan
dalam diam
jemputan beralas kias petanda
lembut terpanggil namamu disunyi pusara
tiada lagi usik mencuit hati
menyindiri begini
bagaimana aku harus tertawa.
Buat Bapa Mertua, adik Ipar di Kota Bharu, nenek di Perlis juga jiran Allahyarham Rafie Hussein, Sahabat, Allahyarham Sudiro dan Nasir Ali di KL yang telah kembali ke rahmatullah selepas raya puasa baru- baru ini.
Puisi ini juga terpilih untuk disiarkan dalam majalah Dewan Sastera Januari 2009.
tertanya-tanya siapa
malah bertimpa- timpa
akur oleh undangan jauh
tidak terduga
tidak tangguh
gerombolan ini pun berlalu pergi
dalam tenang rindu
tersenyum teduh
meninggalkan daerah kacau ini
hingga kami menggelepar
dikoyak rindu
digoncang sendu
berzikir riuh
hingga terlepas cinta dari pelukan
terlerai genggaman
terungkai ikatan
kekang satu demi satu
berturutan
dalam diam
jemputan beralas kias petanda
lembut terpanggil namamu disunyi pusara
tiada lagi usik mencuit hati
menyindiri begini
bagaimana aku harus tertawa.
Buat Bapa Mertua, adik Ipar di Kota Bharu, nenek di Perlis juga jiran Allahyarham Rafie Hussein, Sahabat, Allahyarham Sudiro dan Nasir Ali di KL yang telah kembali ke rahmatullah selepas raya puasa baru- baru ini.
Puisi ini juga terpilih untuk disiarkan dalam majalah Dewan Sastera Januari 2009.
Tuesday, November 11, 2008
LUKISAN YANG SARAT TERLINDUNG
Kucari kamu
diantara lindung kelmarin
cendawan pagi putih
di pangkal pohon
kehidupanku
bermandi embun
hujan airmata
seribu peristiwa
setelah ditinggalkan
sunyi senja jauh
bersama doa
kau terpahat diingatan
bagai lukisan ku dulu
sarat terpunggah kembali
dari celah dinding.
diantara lindung kelmarin
cendawan pagi putih
di pangkal pohon
kehidupanku
bermandi embun
hujan airmata
seribu peristiwa
setelah ditinggalkan
sunyi senja jauh
bersama doa
kau terpahat diingatan
bagai lukisan ku dulu
sarat terpunggah kembali
dari celah dinding.
Saturday, October 25, 2008
ANDAIAN
Sebenarnya dalam melihat
perlakuan manusia
dengan rambang mata
kita selalu tersalah sangka
dan kita tidak memahami
walaupun sepatah kata-kata
kita menjatuhkan hukuman sendiri
walau pun menyimpang jauh dari mula
kita menilai kulit dan rupa
walau berjumpa untuk seketika
adalah lebih baik
kita berbaik sangka
dari membuat andaian
yang bukan-bukan
manusia dengan wajahnya yang berbagai
dengan sifat yang berbedza
dengan kelemahan sentiasa
sebelum cerita baru bermula
kita mula menyibar fitnah
kita sebenarnya di perhatikan
berhati-hatilah
kejujuran yang tersembunyi
dalam hati
mata kita pun sebenar
tidak berapa jelas.
perlakuan manusia
dengan rambang mata
kita selalu tersalah sangka
dan kita tidak memahami
walaupun sepatah kata-kata
kita menjatuhkan hukuman sendiri
walau pun menyimpang jauh dari mula
kita menilai kulit dan rupa
walau berjumpa untuk seketika
adalah lebih baik
kita berbaik sangka
dari membuat andaian
yang bukan-bukan
manusia dengan wajahnya yang berbagai
dengan sifat yang berbedza
dengan kelemahan sentiasa
sebelum cerita baru bermula
kita mula menyibar fitnah
kita sebenarnya di perhatikan
berhati-hatilah
kejujuran yang tersembunyi
dalam hati
mata kita pun sebenar
tidak berapa jelas.
Wednesday, October 22, 2008
SAKIT YANG SINGGAH
Kesakitan pun
datang lagi bertanya
tidak pernah ku hiraukan luka
kelaparan juga
jemu menghantarku dengan dulang hitam
hanya sisa silam
sekian lama tertinggal
busuk bantal
tidak ada sesiapa peduli
tertidur dan mimpi
alangkah hebatnya mimpiku
singgahsana tinggi
antara bukit dan lautan
dan aku menanti mu di pintu
dengan aneka bunga
berbagai warna
yang sering ku taburkan
keliling waktu.
datang lagi bertanya
tidak pernah ku hiraukan luka
kelaparan juga
jemu menghantarku dengan dulang hitam
hanya sisa silam
sekian lama tertinggal
busuk bantal
tidak ada sesiapa peduli
tertidur dan mimpi
alangkah hebatnya mimpiku
singgahsana tinggi
antara bukit dan lautan
dan aku menanti mu di pintu
dengan aneka bunga
berbagai warna
yang sering ku taburkan
keliling waktu.
Saturday, October 11, 2008
JAMUAN HARI RAYA PPK/ PESISIR.





Terima kasih kerana jemputan jamuan Hari Raya anjuran Persatuan Penulis Kelantan PPK, Persatuan Penulis Tumpat PESISIR di hari Raya ke 4, Gelanggang Seni Kota Bharu, Kelantan. Meriah dapat juga jumpa teman -teman lama Wan A. Rafar, Pelukis kartun Rossem, Hadi, Rahimidin, Leo AWS, Ediramle dan lain-lain.
Semoga ia akan berterusan dan dapat pula merapatkan hubungan yang sedia ada.
Bersama Ediramle dan Rossem.
BUAH LETUP
SAWAH DI BOHOR INAI PERLIS
Thursday, September 25, 2008
SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI
Friday, September 12, 2008
TETAMU KECIL
Sehelai daun kuning
begitu lama kering
gugur dari pohon tinggi
melayang- layang terbang
jatuh kedalam pingganku
apakah maknanya itu
tentu ada sesuatu
jangan menduga
simpan saja
walau tidak berharga
walau tidak secantik mana
ia tetap bernama
siapa tahu
suatu waktu
ia menjadi perlu
menjadi sangat berharga
simpan di kocekmu
ia mungkin menjadi rahsia
ada sesuatu disebaliknya
walau tanpa kata- kata
ia tetap membawa makna
tunggulah jawapannya
disuatu masa
sewaktu engkau mula dilupa.
begitu lama kering
gugur dari pohon tinggi
melayang- layang terbang
jatuh kedalam pingganku
apakah maknanya itu
tentu ada sesuatu
jangan menduga
simpan saja
walau tidak berharga
walau tidak secantik mana
ia tetap bernama
siapa tahu
suatu waktu
ia menjadi perlu
menjadi sangat berharga
simpan di kocekmu
ia mungkin menjadi rahsia
ada sesuatu disebaliknya
walau tanpa kata- kata
ia tetap membawa makna
tunggulah jawapannya
disuatu masa
sewaktu engkau mula dilupa.
KOTA SENDA SANDIWARA
Di kota ini hanya tinggal
sekepal cinta setia
selebihnya keraguan
selepas muncul kecurangan
tumpas pada godaan
di kota senda sandiwara
janji jadi gula
kita diketawakan kawan
kerana kita mudah memaafkan
hati putih milik kita
terpedaya dengan kata berbunga
cerita sedihnya berbagai dalih
berkali- kali kita terkena
besuknya kita sudah terlupa
perit serik sakitnya
di kota ini hanya tinggal
cebisan senyuman
kesabaran buat bekalan pulang
diseparuh jalan
manisnya hilang.
sekepal cinta setia
selebihnya keraguan
selepas muncul kecurangan
tumpas pada godaan
di kota senda sandiwara
janji jadi gula
kita diketawakan kawan
kerana kita mudah memaafkan
hati putih milik kita
terpedaya dengan kata berbunga
cerita sedihnya berbagai dalih
berkali- kali kita terkena
besuknya kita sudah terlupa
perit serik sakitnya
di kota ini hanya tinggal
cebisan senyuman
kesabaran buat bekalan pulang
diseparuh jalan
manisnya hilang.
DAUN KETUPAT
Pada sesiapa yang tak kenal dan yang sudah lupa daun ketupat inilah dia,gunanya buat ketupat Hari Raya.Hujung daunnya bukan terkena potong, memang macam tu semulajadi macam sudah dipotong.Arwah bapaku pernah menanam pokok ini dalam pasu bunga buat perhiasan.Mula- mula semua orang hairan, tapi selepas dia menjadi petani contoh semua orang mula ikut menanam dalam pasu bunga.Tidak perlu susah-susah masuk hutan lagi cari daun ketupat ini.
Thursday, September 11, 2008
SELAMAT HARI RAYA.
Di hari mulia Hari Raya
ku pohon kemaafan
dari jauh di kampung
semoga engkau mendengarkannya
dan terus bahagia
bersama keluarga
yang tercinta
Hari ini di pagi shawal
aku masih teringat padamu
segala kenangan lalu
sewaktu bersama
telah kau tinggalkan
bersamaku begitu banyak
keindahan kota
walaupun kita tidak dapat bersama lagi
aku terus mengenangmu
dan setiap kali Hari Raya sebegini
dan di sini impian kita terhenti
untuk tidak lagi di kenangkan
hanya bunga- bunga merah
berkembang
semakin menyala
aku rindukan daerah hijau
kecilku yang dulu
batas bendang
burung- burung pagi
berlari dalam letupan mercun dan bunga api.
Sajak hari raya buat Kawan- kawan dan
Zulkifli Din yang menggeletek tak sabar nak balik kampung.
ku pohon kemaafan
dari jauh di kampung
semoga engkau mendengarkannya
dan terus bahagia
bersama keluarga
yang tercinta
Hari ini di pagi shawal
aku masih teringat padamu
segala kenangan lalu
sewaktu bersama
telah kau tinggalkan
bersamaku begitu banyak
keindahan kota
walaupun kita tidak dapat bersama lagi
aku terus mengenangmu
dan setiap kali Hari Raya sebegini
dan di sini impian kita terhenti
untuk tidak lagi di kenangkan
hanya bunga- bunga merah
berkembang
semakin menyala
aku rindukan daerah hijau
kecilku yang dulu
batas bendang
burung- burung pagi
berlari dalam letupan mercun dan bunga api.
Sajak hari raya buat Kawan- kawan dan
Zulkifli Din yang menggeletek tak sabar nak balik kampung.
Wednesday, September 10, 2008
SENJA MERAH
Di pantai penuh bunga
tapi dihatiku
hanya tinggal hempas derita
berkejaran di pantai sejarah
aku teruskan perjalanan ini
meredah merah
mengharung laut sepi
tanpa haluan pasti
kubawa luka ini pergi
sejauhnya.
tapi dihatiku
hanya tinggal hempas derita
berkejaran di pantai sejarah
aku teruskan perjalanan ini
meredah merah
mengharung laut sepi
tanpa haluan pasti
kubawa luka ini pergi
sejauhnya.
KERIS PUSAKA
Sebilah keris lama
telah meragut ratusan nyawa
pernah bermandi darah penjajah
di bumi ini mereka tersungkur
bersama aib mereka berkubur
keris ini penentu kata
jangan diikut kehendak rasa
di rumah orang tertib berbahasa
ada adat pembatas laku
jangan kita hendak ditipu
konon mereka lebih maju
jangan diuji tajam senjata
kalau memang nak hidup lama
jika menyerang jangan melulu
kelak di tanah engkau menyudu
keris ini bukan sembarangan
dipertapa ia zaman berzaman
pamur halus picitan jari
tukang hebat si pandai besi
hulunya gading kepala pekaka
limau disepuh penambah bisa
kalau kena habis cerita
jangan pula ia dijaja
maruah bangsa hendaklah dijaga
bukan pula barang mainan
kelak ia jadi hiasan.
Petikan dari Kumpulan Puisi `Lukisan Pengembara`
DBP-2008.
telah meragut ratusan nyawa
pernah bermandi darah penjajah
di bumi ini mereka tersungkur
bersama aib mereka berkubur
keris ini penentu kata
jangan diikut kehendak rasa
di rumah orang tertib berbahasa
ada adat pembatas laku
jangan kita hendak ditipu
konon mereka lebih maju
jangan diuji tajam senjata
kalau memang nak hidup lama
jika menyerang jangan melulu
kelak di tanah engkau menyudu
keris ini bukan sembarangan
dipertapa ia zaman berzaman
pamur halus picitan jari
tukang hebat si pandai besi
hulunya gading kepala pekaka
limau disepuh penambah bisa
kalau kena habis cerita
jangan pula ia dijaja
maruah bangsa hendaklah dijaga
bukan pula barang mainan
kelak ia jadi hiasan.
Petikan dari Kumpulan Puisi `Lukisan Pengembara`
DBP-2008.
LUKISAN PENGEMBARA
Alangkah kalutnya lukisanku
tercalar oleh derita bertunda
di sana indah kucari
warna- warna kehidupan abadi
keasyikan di taman bernyanyi
lukisan hatiku bertanya
mencari makna
rahsia alam berbicara
peringatan atau berita sementara
waspadalah
lukisan hatiku bergantungan
rindu ranum tersimpan
resam cerita dan kenangan
warna- warna pilihan
ingin kutinggalkan
kemewahan
kecantikan seadanya
aku mencari cahaya
cahaya bakal menjelma
menerangi lingkaran hati
setia sentiasa menemani
mengelilingi diri
terdiam di pelukan.
Petikan dari Kumpulan Puisi `Lukisan Pengembara`
DBP, 2008.
tercalar oleh derita bertunda
di sana indah kucari
warna- warna kehidupan abadi
keasyikan di taman bernyanyi
lukisan hatiku bertanya
mencari makna
rahsia alam berbicara
peringatan atau berita sementara
waspadalah
lukisan hatiku bergantungan
rindu ranum tersimpan
resam cerita dan kenangan
warna- warna pilihan
ingin kutinggalkan
kemewahan
kecantikan seadanya
aku mencari cahaya
cahaya bakal menjelma
menerangi lingkaran hati
setia sentiasa menemani
mengelilingi diri
terdiam di pelukan.
Petikan dari Kumpulan Puisi `Lukisan Pengembara`
DBP, 2008.
BAHASA BERSAMA
Sudah lama engkau di sini
saling mengenal hati dan budi
kita pun tinggal bersama
dengan kehendak berbeza- beza
dengan tujuan tidaklah nyata
dengan permintaan berbagai- bagai
sehingga bahasa bercampur -campur
sehingga makna menjadi kabur
jika tersalah engkau bercampur
banyak perkara harus ditegur
tidak inginkah kau mengenaliku
dengan bahasa yang lebih teratur
agar kita lebih mendekat
semoga kita menjadi mesra
mengenal adat memang jauh ketara
mengenal budaya warisan bangsa
hendaklah akur kepada yang tua
di mana bumi dipijak
di situ langit dijunjung
mengenal bahasaku tiada ruginya
mengenal diriku tiada salahnya
menyusul akar tak hilang bisanya
barang niaga tak susut nilainya.
Petikan dari Kumpulan Puisi `Lukisan Pengembara`,
DBP.2008.
saling mengenal hati dan budi
kita pun tinggal bersama
dengan kehendak berbeza- beza
dengan tujuan tidaklah nyata
dengan permintaan berbagai- bagai
sehingga bahasa bercampur -campur
sehingga makna menjadi kabur
jika tersalah engkau bercampur
banyak perkara harus ditegur
tidak inginkah kau mengenaliku
dengan bahasa yang lebih teratur
agar kita lebih mendekat
semoga kita menjadi mesra
mengenal adat memang jauh ketara
mengenal budaya warisan bangsa
hendaklah akur kepada yang tua
di mana bumi dipijak
di situ langit dijunjung
mengenal bahasaku tiada ruginya
mengenal diriku tiada salahnya
menyusul akar tak hilang bisanya
barang niaga tak susut nilainya.
Petikan dari Kumpulan Puisi `Lukisan Pengembara`,
DBP.2008.
Friday, September 05, 2008
SAHABAT
Sahabat sejati sukar dicari
pandai pula menjaga hati
bersetia ia sepenuh jiwa
merendah diri menabur bakti
gemar gembira dapat bersama
berpesan- pesan tanda ingatan
bagai pelita penunjuk jalan
tidak lupa sebagai bekalan
berbangga ia engkau berjaya
tanda ia ikhlas dan jujur
penganti sunyi teman berhibur
tidak berkira kederat upaya
dicuba juga selagi terdaya
tidak lekang namamu diulang
dalam doa engkau dijulang
sedang engkau tidak ketahui
kerana ia hasrat peribadi
tidak mengharap ia dipuji
tersemat dihati ikatan suci
tidak ia berbelah bagi.
Kumpulan Puisi ` Lukisan Pengembara`2008.
pandai pula menjaga hati
bersetia ia sepenuh jiwa
merendah diri menabur bakti
gemar gembira dapat bersama
berpesan- pesan tanda ingatan
bagai pelita penunjuk jalan
tidak lupa sebagai bekalan
berbangga ia engkau berjaya
tanda ia ikhlas dan jujur
penganti sunyi teman berhibur
tidak berkira kederat upaya
dicuba juga selagi terdaya
tidak lekang namamu diulang
dalam doa engkau dijulang
sedang engkau tidak ketahui
kerana ia hasrat peribadi
tidak mengharap ia dipuji
tersemat dihati ikatan suci
tidak ia berbelah bagi.
Kumpulan Puisi ` Lukisan Pengembara`2008.
Thursday, September 04, 2008
TIDUR DALAM TAMAN BUNGA
Suatu waktu dulu memang pernah pun saya tidur di bangku dalam sebuah taman bunga di Pulau Pinang.Waktu itu selepas tamat sekolah menengah tingkatan 5, hajat hati nak kerja sebagai Pelukis di sebuah penerbitan yang buat akhbar `Bintang Timur`.Tidak cukup wang untuk tidur di hotel. Rasanya adalah dalam 20 ringgit dalam poket. Saya dan seorang kawan dari Perak tidur atas bangku batu dalam taman saja, sejuk angin kencang ,maklumlah tepi laut dan nyamuk pula sangat banyak mengerumuni tubuh kurus kering kami,selepas di halau oleh penguatkuasa kerana kami di sangkakan penagih dadah, kami tidur pula di masjid.Kat masjid pun kena halau juga. Pergi temuduga awal-awal lagi dia dah tanya `pernah buat layout?` terkepil kepil aku nak jawab ...apa benda tu?.Maklumlah orang kampung mana tahu, jadi gagallah aku ditemuduga hari tu. Pulanglah ke Perlis dengan hampa, tapi dalam hati rasa puas kerana dapat pengalaman makan angin keluar asap dan tersingkir di tempat orang.
Disepanjang perjalanan pulang dalam bas perkataan layout itu menjadi tanda tanya yang panjang dan tak terjawab.Mungkin dia halau aku dengan cara terhormat mungkin sama maksud dengan`Get out`.
Disepanjang perjalanan pulang dalam bas perkataan layout itu menjadi tanda tanya yang panjang dan tak terjawab.Mungkin dia halau aku dengan cara terhormat mungkin sama maksud dengan`Get out`.
Saturday, August 30, 2008
TANAH INI MILIK KITA
Negeri ini sebenarnya
telah tumpah begitu banyak darah
keringat dan air mata
telah datang pelbagai bangsa
pelbagai niat menyimpang hajat
namun begitu
halusnya muslihat
begitu payah juga mereka beringat
bertaubat
pegangan atau adat
hendak disukat
bisanya keris wasiat
Negeri ini sebenarnya
kaya ia dengan akar cerita
benar atau mentera
tersohor masyhur pula dari hasilnya
sehingga bersarang burung yang jauh
bersatu adat yang ada
bertemu jodoh dan baka
menjadi baik orang yang datang
semakin elok budi bahasa
Negeri ini sebenarnya milik kita
jangan sampai diri dipersenda
tidak pandai mengurus harta
apa ada hendak diberi
apa dijual hendak dibeli.
Abd. Ghafar Bahari
Dari Kumpulan Puisi Lukisan Pengembara
Selamat menyambut Hari Kemerdekaan
31 Ogos 2008'
12.00 malam.
telah tumpah begitu banyak darah
keringat dan air mata
telah datang pelbagai bangsa
pelbagai niat menyimpang hajat
namun begitu
halusnya muslihat
begitu payah juga mereka beringat
bertaubat
pegangan atau adat
hendak disukat
bisanya keris wasiat
Negeri ini sebenarnya
kaya ia dengan akar cerita
benar atau mentera
tersohor masyhur pula dari hasilnya
sehingga bersarang burung yang jauh
bersatu adat yang ada
bertemu jodoh dan baka
menjadi baik orang yang datang
semakin elok budi bahasa
Negeri ini sebenarnya milik kita
jangan sampai diri dipersenda
tidak pandai mengurus harta
apa ada hendak diberi
apa dijual hendak dibeli.
Abd. Ghafar Bahari
Dari Kumpulan Puisi Lukisan Pengembara
Selamat menyambut Hari Kemerdekaan
31 Ogos 2008'
12.00 malam.
Friday, August 29, 2008
Thursday, August 28, 2008
INDAH BICARA
Wednesday, August 27, 2008
Kumpulan puisi `Bunga-bunga Rumput` saya telah dibicarakan dalam majlis Diskusi buku di Universiti Utara Malaysia(UUM) Sintok pada hari Ahad baru- baru ni. Tetamu seramai 700 orang lebih sungguh diluar jangkaan.Anjuran Bahagian Teori dan Kritikan Sastera Dewan Bahasa dan Pustaka.Terima kasih pada Persatuan Penulis Kuala Lumpur (KALAM) Sdr. Mohamad Daud Mohamad,Jusoh Majid dan semua teman- teman yang terlibat.- Gopa.
Friday, August 22, 2008
GELIGA EMBUN

Saya suka embun sebab nampak macam biji tasbih bulat- bulat di sepanjang daun. Kata orang di antara banyak- banyak embun itu ada setitis embun yang mengandungi sebiji geliga yang dinamakan `Geliga Embun`.Kata orang lagi gunanya untuk menghilangkan diri dari pandangan musuh dan orang yang berniat jahat dan boleh jadi ubat pelbagai jenis penyakit.
Thursday, August 07, 2008
LUKISAN DIRI
-Puisi Buat Seorang Sahabat Bob
( Ahmad Nazri Ahmad Razali )
Bob,
Meski pun hidupmu
tidak hentinya diterjah duka
dikunyah derita
kehilangan, kesunyian
ia menjadi sesuatu yang tiada nilainya
demi kesabaran
kau masih boleh tersenyum sendiri
dan menghiburkan kami
dengan telatah senda guraumu.
Bob,
Perjalanan ini
sebenarnya adalah
sesuatu yang sukar dimengerti
ketentuan takdir
ada lah sesuatu yang seni
lakaran berliku- liku
bagai lukisan
penuh warna
tetapi tetap berakhir
dengan segala keindahan
andaikata kau sudah mengerti
kenapa ia terjadi
Kita akan terus melukis
di seluruh rimba ini
mencarinya dengan hati
lukisan tersembunyi.
( Ahmad Nazri Ahmad Razali )
Bob,
Meski pun hidupmu
tidak hentinya diterjah duka
dikunyah derita
kehilangan, kesunyian
ia menjadi sesuatu yang tiada nilainya
demi kesabaran
kau masih boleh tersenyum sendiri
dan menghiburkan kami
dengan telatah senda guraumu.
Bob,
Perjalanan ini
sebenarnya adalah
sesuatu yang sukar dimengerti
ketentuan takdir
ada lah sesuatu yang seni
lakaran berliku- liku
bagai lukisan
penuh warna
tetapi tetap berakhir
dengan segala keindahan
andaikata kau sudah mengerti
kenapa ia terjadi
Kita akan terus melukis
di seluruh rimba ini
mencarinya dengan hati
lukisan tersembunyi.
Saturday, August 02, 2008
Monday, July 07, 2008
KUMPULAN PUISI LUKISAN PENGEMBARA
Sunday, June 22, 2008
LUKISAN DI PELABUHAN
Aku berdiri di pelabuhan
melihat payah nelayan
bergelut dengan lautan
aku melihat derita
anak-anak di tangga
tanpa baju sepatu
bergelut dengan debu
aku melukis kehidupan
pelabuhan yang ditinggalkan
segala indah ingin kulukiskan
tapi tak sanggup aku berhadapan
derita ini kian berpanjangan
kesedihan yang kau gambarkan
pada wajah laut masin bergaram
dimana manis senyuman
mula tenggelam.
melihat payah nelayan
bergelut dengan lautan
aku melihat derita
anak-anak di tangga
tanpa baju sepatu
bergelut dengan debu
aku melukis kehidupan
pelabuhan yang ditinggalkan
segala indah ingin kulukiskan
tapi tak sanggup aku berhadapan
derita ini kian berpanjangan
kesedihan yang kau gambarkan
pada wajah laut masin bergaram
dimana manis senyuman
mula tenggelam.
LUKISAN DI DINDING
Aku melihat lukisan di dinding
ada cerita di dalam warnanya
abadi buat kenangan
ia hanyalah sebuah taman
tiada kau ku lukiskan
hanya bangku
kerana ia menjadi rahsia tersimpan
hanya aku yang tahu
ketika itu
mentari condong cahaya
bayang- bayangmu memanjang
singgah ditubuhku
terlena
ketika aku melukiskan lukisan ini
kau di bangku itu jauh
aku di rumput ini asyik
membancuh cinta
di dalam tasik.
ada cerita di dalam warnanya
abadi buat kenangan
ia hanyalah sebuah taman
tiada kau ku lukiskan
hanya bangku
kerana ia menjadi rahsia tersimpan
hanya aku yang tahu
ketika itu
mentari condong cahaya
bayang- bayangmu memanjang
singgah ditubuhku
terlena
ketika aku melukiskan lukisan ini
kau di bangku itu jauh
aku di rumput ini asyik
membancuh cinta
di dalam tasik.
KUNTUM CINTA
Lahirnya di tengah- tengah keruntuhan
akal dan jiwa
di manakah dia akan melahirkan
sisa kasih kita
anak sarat dikandungan
kuntum cinta sesuci ini
langit berdebu
bumi basah berdarah
wajah- wajah pecah
perut- perut terburai
tanpa nama
tanpa senjata
ceracak bercerancang
kebengisan sering menerkam
bagai haiwan- haiwan kejam
memburu mangsa di dalam kelam
apakah salah mereka?
membunuh tidak bertanya
merampas mimpi indah yang baru tiba
setangkai bunga kecil
harum datangnya dari syurga.
SEORANG PENOREH GETAH TUA ( Buat Ayahanda yang telah pergi)
Seorang penoreh getah tua
dilukisnya derita bertunda
mengalirkan suci hatinya
putih dan sabar
di kebun getah tua itulah
usianya bertambah
semakin membongkok
kerana setiap hari menunduk
melihat getahnya di mangkok
sakitnya semakin penuh
tumbah ke tanah
dikutipnya kesabaran diri
dari pokok ke pokok
di kutipnya luka diri
diantara semak samun ini
menjadi keping- kepingan kenangan
untuk dijemurkan
di atas ampaian
sehinggga menjadi kuning dan kering
sehingga semakin banyak kesabarannya
terjual pada mereka.
dilukisnya derita bertunda
mengalirkan suci hatinya
putih dan sabar
di kebun getah tua itulah
usianya bertambah
semakin membongkok
kerana setiap hari menunduk
melihat getahnya di mangkok
sakitnya semakin penuh
tumbah ke tanah
dikutipnya kesabaran diri
dari pokok ke pokok
di kutipnya luka diri
diantara semak samun ini
menjadi keping- kepingan kenangan
untuk dijemurkan
di atas ampaian
sehinggga menjadi kuning dan kering
sehingga semakin banyak kesabarannya
terjual pada mereka.
TERINGAT LAGI DI SUDUT SUNYI
Seringkali aku terperangkap
di kesempitan
berkali- kali kau lepaskan
di sudut kecil hati ini
kau datang lagi
mengetuk- getuk kamar
penuh sabar
selembut angin berbisik
sambil menepis kain langsir
biru langit
pagi itu burung cak rumah
bertenggek dipagar terketar- ketar
menanti bangunku sedar
sambil menanggis lapar
bunga- bunga di halaman
kering terkulai di teduhan
daun- daun gugur
kekuningan
ikan- ikan di akuarium
gelisah berkejaran
menunggu sedikit makanan
dilemparkan
malam itu hujan turun mencurah
tempiasnya menitis di meja ini
di sudut sunyi aku teringat padaMu lagi.
Petikan dari kumpulan puisi Lukisan Pengembara.
di kesempitan
berkali- kali kau lepaskan
di sudut kecil hati ini
kau datang lagi
mengetuk- getuk kamar
penuh sabar
selembut angin berbisik
sambil menepis kain langsir
biru langit
pagi itu burung cak rumah
bertenggek dipagar terketar- ketar
menanti bangunku sedar
sambil menanggis lapar
bunga- bunga di halaman
kering terkulai di teduhan
daun- daun gugur
kekuningan
ikan- ikan di akuarium
gelisah berkejaran
menunggu sedikit makanan
dilemparkan
malam itu hujan turun mencurah
tempiasnya menitis di meja ini
di sudut sunyi aku teringat padaMu lagi.
Petikan dari kumpulan puisi Lukisan Pengembara.
Tuesday, June 10, 2008
Monday, June 09, 2008
SEMUA BERNYANYI
Sebenarnya aku
tidak akan henti bernyanyi
bulan sepi menanti
malam suram wajah
angin berbisik
awan menyeliputi resah alam
tadi angin bernyanyi di dedaunan
hujan pun bernyanyi di rumputan
alam semuanya bernyanyi
lagu rindu kasih terpendam dalam
lagu tersekat di dadaku
pilu menghiris kalbu berteleku kaku
hanya lagu menerpa berkejaran
bergetaran
sehingga...
terkepung di rimba nama
tersurat tersirat di pantai keasyikan
bagai sehelai selendang sutera
putih tipis nipis
bertebaran diterbangkan jauh
semakin jauh mengembara
mencariMu
berlegar- legar di angkasa
sehingga...
rela pula terdampar
di mana- mana.
Petikan dari kumpulan puisi Lukisan Pengembara.
tidak akan henti bernyanyi
bulan sepi menanti
malam suram wajah
angin berbisik
awan menyeliputi resah alam
tadi angin bernyanyi di dedaunan
hujan pun bernyanyi di rumputan
alam semuanya bernyanyi
lagu rindu kasih terpendam dalam
lagu tersekat di dadaku
pilu menghiris kalbu berteleku kaku
hanya lagu menerpa berkejaran
bergetaran
sehingga...
terkepung di rimba nama
tersurat tersirat di pantai keasyikan
bagai sehelai selendang sutera
putih tipis nipis
bertebaran diterbangkan jauh
semakin jauh mengembara
mencariMu
berlegar- legar di angkasa
sehingga...
rela pula terdampar
di mana- mana.
Petikan dari kumpulan puisi Lukisan Pengembara.
LAGU SANG DUYUNG
Segugus puisi ini
terjumpa ia
dicelah karang
di laut kasih
bergelombang
akulah nelayan itu
menjala rindu
anak- anak ikan
berkejaran di batu
berlompatan
mengejar janji
buih- buih di permukaan
kujadikan kalungan
buat sang duyung nestapa
duyung itu adalah
penyanyi laut duka
airmatanya bergaram peristiwa
serta masak oleh panjang deritaku
airmatamu adalah
tangisan sebuah cerita cinta
antara haiwan dan manusia
antara ilusi dan nyata.
Petikan dari kumpulan puisi Lukisan Pengembara.
terjumpa ia
dicelah karang
di laut kasih
bergelombang
akulah nelayan itu
menjala rindu
anak- anak ikan
berkejaran di batu
berlompatan
mengejar janji
buih- buih di permukaan
kujadikan kalungan
buat sang duyung nestapa
duyung itu adalah
penyanyi laut duka
airmatanya bergaram peristiwa
serta masak oleh panjang deritaku
airmatamu adalah
tangisan sebuah cerita cinta
antara haiwan dan manusia
antara ilusi dan nyata.
Petikan dari kumpulan puisi Lukisan Pengembara.
Sunday, June 08, 2008
Thursday, June 05, 2008
BURUNG TUKANG
Rinduku menjadi burung senja
menukangi malam
menerawang tanpa sempadan
telah ku dengar kecapi mendayu
dari jendela batu
siapakah yang tercakar hatinya
hingga jauh begini
terasa dinginnya air mata
mengalir sungai di pipi
menjadi lautan mimpi
dimanakah kekasihku
yang membawa berita luka ini
aku ingin mengetuk pintunya.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga rumput.
menukangi malam
menerawang tanpa sempadan
telah ku dengar kecapi mendayu
dari jendela batu
siapakah yang tercakar hatinya
hingga jauh begini
terasa dinginnya air mata
mengalir sungai di pipi
menjadi lautan mimpi
dimanakah kekasihku
yang membawa berita luka ini
aku ingin mengetuk pintunya.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga rumput.
PULAU IMPIAN
Di pasir bersih ini
kita menulis nama- nama kita
sepasang nama terindah
antara kulit- kulit siput tersisa
antara batu- batu setia
kita berkejaran menduga keberanian
mencabar ombak kerinduan
setelah sekian waktu terpisah
di pantai ini
kita teguhkan kerelaan
untuk belayar lebih jauh
bersama sampan kecil kita
kita pernah mendengar cerita donggeng
tentang sebuah pulau impian
pulau yang timbul dari karang
pulau tempat kita menikmati
haruman bunga- bunga puisi
lalu mengantung keharuan
pada kepak- kepak putih
pulau pelarian tempat bercerita
lalu menyelongkar rahsia kita
sambil duduk berhadapan
bergenggaman tangan
kita satukan malam dan siang
kita bengkokkan jarum- jarum jam
kita bunuh semua kebosanan.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga rumput.
kita menulis nama- nama kita
sepasang nama terindah
antara kulit- kulit siput tersisa
antara batu- batu setia
kita berkejaran menduga keberanian
mencabar ombak kerinduan
setelah sekian waktu terpisah
di pantai ini
kita teguhkan kerelaan
untuk belayar lebih jauh
bersama sampan kecil kita
kita pernah mendengar cerita donggeng
tentang sebuah pulau impian
pulau yang timbul dari karang
pulau tempat kita menikmati
haruman bunga- bunga puisi
lalu mengantung keharuan
pada kepak- kepak putih
pulau pelarian tempat bercerita
lalu menyelongkar rahsia kita
sambil duduk berhadapan
bergenggaman tangan
kita satukan malam dan siang
kita bengkokkan jarum- jarum jam
kita bunuh semua kebosanan.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga rumput.
LELAKI KEHILANGAN NAMA
Hukuman telah dijatuhkan
bergegarlah sebuah dunia rontok
bintang- bintang dititipi walang
kesakitan pun menyelinap didalam hitam
terlindung segala indah didalam bayang
kau lempar dengan halus
pohon- pohon runduk usia
apakah salah wajahku
calar mengalirkan hanyir
hukuman paling wajar
buat seorang terbuang
burung- burung beterbangan
wadi bukan lagi persinggahan
tinggal sepi seperti semula
seperti baru dilahirkan
seperti belum berjumpa
seperti sakit sebelumnya
mengerang lagi di gua- gua pertapaan
mengurung seluruh kepedihan
di sanggar kasihku
Petikan dari kumpulan puisi Bunga - bunga Rumput
bergegarlah sebuah dunia rontok
bintang- bintang dititipi walang
kesakitan pun menyelinap didalam hitam
terlindung segala indah didalam bayang
kau lempar dengan halus
pohon- pohon runduk usia
apakah salah wajahku
calar mengalirkan hanyir
hukuman paling wajar
buat seorang terbuang
burung- burung beterbangan
wadi bukan lagi persinggahan
tinggal sepi seperti semula
seperti baru dilahirkan
seperti belum berjumpa
seperti sakit sebelumnya
mengerang lagi di gua- gua pertapaan
mengurung seluruh kepedihan
di sanggar kasihku
Petikan dari kumpulan puisi Bunga - bunga Rumput
SAKITKU
Tiba- tiba aku dilahirkan
dengan sakit yang menghempas- hempas
dengan nafas yang tersekat sekat
lahirku dari mulut tercungap
tapi kau tidak percaya
bahawa kelahiranku ini
adalah keranuman terpanjang
terpendam dibawah akar tunjang
kubelah separuh diriku
untuk disaksikan
aku tidak gentar akan mata pisau
yang menikam- nikam pilu
dadaku telah bersarang dan berlubang
urat- uratku telah terbelit oleh sakit
tiba- tiba kau tinggalkan
aku sendirian dan tua
disisi pembunuhan paling ngeri.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput.
dengan sakit yang menghempas- hempas
dengan nafas yang tersekat sekat
lahirku dari mulut tercungap
tapi kau tidak percaya
bahawa kelahiranku ini
adalah keranuman terpanjang
terpendam dibawah akar tunjang
kubelah separuh diriku
untuk disaksikan
aku tidak gentar akan mata pisau
yang menikam- nikam pilu
dadaku telah bersarang dan berlubang
urat- uratku telah terbelit oleh sakit
tiba- tiba kau tinggalkan
aku sendirian dan tua
disisi pembunuhan paling ngeri.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput.
CALAR BULAN
Di antara ruang dan jurang
aku menghitung pesisir usia
seperti menghuraikan
rangkap rasa-rasa tercerna
apakah hari ini aku cukup bersedia
menterjemah nista
walau sebenarnya aku lebih bersedia
mengharung calar derita
jika aku begitu mudah lupa
akan awal kejadian
tetapi mengapa tidak sekarang
hingga aku terdampar
pada dada malam yang semakin menghitam
padahal
aku cukup waras
akan kelibat yang melintas dan terpintas
apakah tak perlu sebarang pertanyaan
sehingga segalanya semakin mencurigakan
bukankah selama ini
kita juga yang melemparkan nama- nama kita
pada dada bulan bercalar kabus.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput.
aku menghitung pesisir usia
seperti menghuraikan
rangkap rasa-rasa tercerna
apakah hari ini aku cukup bersedia
menterjemah nista
walau sebenarnya aku lebih bersedia
mengharung calar derita
jika aku begitu mudah lupa
akan awal kejadian
tetapi mengapa tidak sekarang
hingga aku terdampar
pada dada malam yang semakin menghitam
padahal
aku cukup waras
akan kelibat yang melintas dan terpintas
apakah tak perlu sebarang pertanyaan
sehingga segalanya semakin mencurigakan
bukankah selama ini
kita juga yang melemparkan nama- nama kita
pada dada bulan bercalar kabus.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput.
Wednesday, June 04, 2008
AKU DIHANYUTKAN
Hari ini aku telah dihanyutkan
aku hanyutkan ingatanku pada
pulau- pulau impian
adalah batu yang tumbuh dalam otakku
batu yang menjadi barah
menjalankan wabak ke urat- uratku
wabak yang menyakitkan
apakah aku akan terus dihanyutkan
sehingga dunia ini menjadi segi tiga
kita pun semakin sukar untuk bertemu kembali.
Petikan dari Kumpulan Puisi Bunga -bunga Rumput.
aku hanyutkan ingatanku pada
pulau- pulau impian
adalah batu yang tumbuh dalam otakku
batu yang menjadi barah
menjalankan wabak ke urat- uratku
wabak yang menyakitkan
apakah aku akan terus dihanyutkan
sehingga dunia ini menjadi segi tiga
kita pun semakin sukar untuk bertemu kembali.
Petikan dari Kumpulan Puisi Bunga -bunga Rumput.
KEWALAHAN
Dengan mata redup
merentap jarum jam
jarum yang menikam
di urat- uratku
bulan menjadi sabit
tergantung dan ingin memancung
kata- kata menjadi putus
ia bertabur di kaki- kaki meja
hingga resah rimbaku
melindungi arak mempelai awan
meninggalkan pembekuan darah hitam
di pelabuhanku
alangkah
tebalnya batas malam
hingga senyum menjadi berat
ia beban tebal malu
kewalahan oleh kejujuranku
rupa- rupanya seperti menukar nyawa.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput.
merentap jarum jam
jarum yang menikam
di urat- uratku
bulan menjadi sabit
tergantung dan ingin memancung
kata- kata menjadi putus
ia bertabur di kaki- kaki meja
hingga resah rimbaku
melindungi arak mempelai awan
meninggalkan pembekuan darah hitam
di pelabuhanku
alangkah
tebalnya batas malam
hingga senyum menjadi berat
ia beban tebal malu
kewalahan oleh kejujuranku
rupa- rupanya seperti menukar nyawa.
Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput.
SINGKATNYA WAKTU BERLALU
Kau hanya memandang sewaktu aku datang
aku hanya menoleh sewaktu kau melintas
kita tidak sempat berkata walau sepatah
wajahmu antara wajah- wajah yang lain
sentiasa melintas begitu pantas
seperti angin berlalu laju
persis hari bertukar ganti
bagai rumput sentiasa berbunga
umpama hujan sesekali menyimbah
laksana awan berarak pergi
meninggalkan matahari
tertegun
begitu rapuhnya pertemuan
tiada apa-apa yang ditinggalkan
tetapi kita tetap berjumpa
kita tidak akan berpaling kebelakang
apalagi ada pagar- pagar terlarang
yang membezakan
cerita di matamu
gelombang di dadaku
kau dengan tujuan tertentu di situ
aku dengan urusan tersendiri di sini
siapa pun engkau tidaklah penting
tetapi bau haruman yang ditinggalkan
mengigatkan aku pada sesaorang
dia juga sudah lama pergi
sepantasnya alam ini.
( Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput )
aku hanya menoleh sewaktu kau melintas
kita tidak sempat berkata walau sepatah
wajahmu antara wajah- wajah yang lain
sentiasa melintas begitu pantas
seperti angin berlalu laju
persis hari bertukar ganti
bagai rumput sentiasa berbunga
umpama hujan sesekali menyimbah
laksana awan berarak pergi
meninggalkan matahari
tertegun
begitu rapuhnya pertemuan
tiada apa-apa yang ditinggalkan
tetapi kita tetap berjumpa
kita tidak akan berpaling kebelakang
apalagi ada pagar- pagar terlarang
yang membezakan
cerita di matamu
gelombang di dadaku
kau dengan tujuan tertentu di situ
aku dengan urusan tersendiri di sini
siapa pun engkau tidaklah penting
tetapi bau haruman yang ditinggalkan
mengigatkan aku pada sesaorang
dia juga sudah lama pergi
sepantasnya alam ini.
( Petikan dari kumpulan puisi Bunga- bunga Rumput )
Subscribe to:
Posts (Atom)
























