Tuesday, October 06, 2009

SANDARKAN DIRI KE DINDING INI

Kusandarkan diri pada dinding ini
hanya aku ingin sandarkan diriku dengan manja
telah begitu banyak beban tergalas ini
sarat tak terpikul lagi
penuh

malam ini
aku hanya ingin bercakap seperti biasa
seperti aku yang tidak mengerti apa- apa
dengan bahasa yang biasa
dari resam pengalaman
tangguh lagi pelupa

ingin ku sandarkan kesal ini
kebahu kekasihku yang sentiasa
memerhatikan
bila terkoyaknya iman
tersungkur lagi
berkali kali
meruntun harap
belas kasihan

kata hati aku kini hanyalah
dari sunyi pohon teruji
disana segalanya ada
ranting ranting
ulat ulat sebelum menjadi rerama
buruk sebelum kembali kesayap indahnya.

4 comments:

Dhamah Syifflah said...

kelam malam menyeliputi sepi...
menerbangkan dedaun menyentuh pipi...
mengesat air satria gagah berani...
berjuang hingga hilang arah berlari...
dimana langkah dimana kini...
siapa kembali siapa pergi...
masihkah ada harapan dimasa ini...

biarlah...
apapun terjadi aku yang merosakkan aku...

ABD. GHAFAR BAHARI (GOPA) said...

Pantasnya usia berlari
sunyi membuahkan sedih
kasih membuahkan rindu
semuanya kita cinta
hanya takut disana
tidak dapat lagi bersama.

biarlah...
memang kurelakan luka
sepenuhnya.

Dhamah Syifflah said...

berlari menembus dinding alpa...
agar terlihat apa dibaliknya...
walaupun rupa terkoyak luka...
rindu dihati dapat merawatnya...
asalkan sudi melihatkan WajahNya...

biarlah...
luka itu akan sembuh...
apabila kembali kepada Allah...
hanya Dia maha pemurah...

ABD. GHAFAR BAHARI (GOPA) said...

InsyaAllah,
semoga kita akan selalu ingat
dia yang maha mengetahui, maha pengasih
lagi maha pengampun.