( Puisi Buat Aris Aziz dan Pelukis- pelukis Pasar Budaya)
Terus bergelut
diantara keterbatasan upaya
melahirkan sketsa suasana
bagai daun-daun harapan
berterbangan hanya rasa
dari seluruh coretan alam
di padang padang pengalaman
hanya warna-warna kering
kian membeku
sekadar kemampuan
apalah daya
tertewas lagi di arena
tenggelam dalam tepukan
apalah ertinya kini
aku sudah tidak berdaya
terpaku terpanggang
diantara ranjau perhitungan
terus mengenggam sepantasnya
berus yang patah
tertikam berdarah menunggu rebah
tapi bukan bermakna
untuk terus dikalungkan indah
kerana api didada ini
akan terus membakar
belantara mimpi kita
selamanya
kerana waktu itu
sangat berharga
walau pun payah untuk dijeda
seluruh kesakitan
begitu banyak luka- luka
ingin kulemparkan sejauhnya
dari desir sedu hela
tanggismu kekasih
aku sudah begitu lama tersiksa
dan aku sudah terlalu tua
disanggar hitam putih penjara.
12 comments:
Salam kenal dari saya. Untuk saudara gopabahari, terimalah sajak dari saya -
Kalam Penyair
Sejahtera untukmu wahai diri
Seorang penyair dengan kalam
Terlukis di kanvas rasa terpendam
Penuh suci dan berdenyut dalam
Cantik halamanmu wahai penyair
Bagai taman yang indah mekar
Penuh harum dan juta-juta warna
Ada kumbang singgah sebentar
Beroleh rasa sampai ke tasik fana
Akan puisimu wahai penyair
Ini pesanku si fakir hina
Meniti bicara atas lidah Masuri
Sebagai penyair kita harus berwatak jelas
Kita harus berotak waras
Harus berani dilempari bunyi
Harus sanggup dihinggapi tuli
Dari tarikan nafas,
abuyon
Madrasah Sains
11 Jun 99 2.30 pagi
Jemput baca di http://hijau-tinta.blogspot.com
Salam kembali Saudara Abuyon, Terima kasih kerana puisi saudara yang datang menghiasi laman blog ini. juga teguran yang bermakna.
sajak bila pulak ni uncle? tak tidur tulis sajak pulak ye....tak melukis..hehe
sajak ni buat spontan masa kat pejabat,buat uncle Aris yang sakit. Saya teringat bagaimana susahnya perjuangan pelukis pelukis di Pasar Budaya dulu.Dulu saya sering ke sana lepas pejabat hingga lewat malam.baca puisi dan melukis.
owh..ingat uncle yang mengeluh tertalu tua...hehe....
uncle aris memang terlalu kuat bekerja kot....sakit2 dah...
nanti saya buat kad....letak puisi ni ye...
ok.
malam tadi lukis gambar saya tapi belum siap bersongkok dan berbaju melayu macam ketua kampung( Pak Lurah) je.
tak adil ni...lukis gambar sendiri...patut lukis saya sekali..heheh...
ala bosan la.....tak dapat kacau uncle melukis lagi...hehe...sms pun uncle tak dapat....
saya letak puisi ni kat note facebook saya....supaya kawan2 uncle tu dapat baca..hehe...uncle ghani suke poem ni...
puisi 104: terima kasih seniman
3 Ogos 2009
~coretan buat saudara Gopa dan teman teman pelukis~
bagai bayi naïf
kanvas putih itu
kusam, kuning dan tohor
menanti ditiupkan roh
lewat warna warna yang cair
dihujung jarimu
calit calit berus
menari dan bercerita
tentang segalanya
yang terpatri
lewat mata seni
yang memandang faham
seniman
kami yang memerhati
adalah pengungsi haus
yang sirna dahaganya
lewat tiap lakaran
yang tersahut
oleh tajam hatimu
terima kasih
kerana hadir
memberikan nyawa
pada kanvas putih
tak berwajah
mawar marzuki
~saya jadi posmen tanpa gaji sebab aunty mawar tak boleh nak comment kat cini...uncle bagi permission kat orang yang ada google account je...huhu....
Terima kasih pada Mawar Marzuki dengan karya puisi yang sangat bagus ini.Terima kasih juga buat Cahaya Kekasih yang mengirimkannya.Best sangat.- Gopa
kasih diterima, uncle...
Post a Comment