Friday, February 12, 2010

PENJARA

Inilah lorong lorong sunyi
kulalui kolong kolong hitam
kudengar jerit perih kasih
meronta merengkuh malam
apakah yang telah terjadi
sehingga tenggelam bersama
kepahitan kalut kota cinta
di mana kah kasihku itu
yang hanyut di deras
laut bergelora

lupakah dia padaku
di bawah pohon teruji ini
sekian waktu menunggu
membilang jari
meratapi mimpi
berguguran daun daun
kekeringan

lupakah dia
pada singkat masa berlalu
yang memenjarakan
usia kita
sehingga mungkin
tidak lagi dapat bertemu
hanya tinggal sisa
sepihan
detik detik waktu
saat demi saat.

4 comments:

  1. setidak-tidaknya pandanglah aku
    walau sedetik
    agar kelembutan cahaya perkasihan itu
    larut ke dalam jiwaku

    bagaimanakah harus aku ceritakan
    perihal dunia yang merantai jemariku
    kala jiwaku menjerit
    meronta
    kerinduan yang tertangguhkan
    hanya untukmu
    melangsaikan

    andainya
    di telapak tanganku kunci
    akan aku datang ke gerbangmu
    membebaskan sekian waktu
    yang memenjarakan
    kamu
    dan launganmu
    mendera siang malamku
    yang juga merindu
    adakah kau tahu...?

    berguguran dedaunan
    pada tiap satunya
    telah aku anyam
    urat garisnya
    peta
    menuju aku
    sedarkah kamu
    kewujudan warkah cintaku itu?

    ReplyDelete
  2. Setiakasihku
    aku sedar akan gelodak jiwamu
    tidak terkecuali
    aku juga meronta ronta
    memangil namamu
    pada setiap waktu yang berlalu
    mengapakah aku
    begitu gelisah dan bimbang

    Setiakasihku
    maafkanlah aku.

    ReplyDelete
  3. aku sering ada
    cuma terpenjara
    rasa dan raga
    tersangkar
    jaringan tugasan realiti
    mendesak
    keutamaan
    dari kehendak jiwa
    sendiri
    jatuh menjadi yang kedua

    andai mencintai itu
    kesalahan
    maka
    maafkan aku juga.

    ReplyDelete
  4. Setiakasih
    kerjakanlah tugas mu dulu dengan sempurna.

    ReplyDelete