Thursday, July 29, 2010



Sajak `Srikandi Hati` karya Anakanda Nur Asyiqin ( Cahaya Kekasih ) tersiar dalam Sejambak Ilham di majalah Tunas Cipta Ogos 2010. Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka.
Puisi Saya `Serikandi Seni` disiar semula di Majalah Dewan Sastera (Edisi Mastera) Ogos 2010.

Wednesday, July 28, 2010

TIDAK PERNAH ADA SENYUM DI SINI

Kabul
Peshawar
tidak pernah ada senyum di sini
tidak ada ruang lagi
untuk kita enak berdiri
hanya peluru motar
dan bom bom berapi
berkeliaran

menyambar maut
mengekori
menghunjam lebur
gua gua pertapaan
penjara hitam
kelaparan
dikepung
kental perjuangan
suci hati
anak pribumi
Afghanistan

Qandahar
Laskar
Jalallabad
hanya batu batu
yang semakin hancur
menjadi debu
beterbangan

anak anak kecil malang
tenggelam di sana hilang
di celah celah batu hitam
petanda kejam
pentualang
serigala yang kelaparan
penguasa metos mimpi
kerasukan
zaman berzaman

lalu di sini tidak pernah ada
belas kasih simpati
sehingga mata mereka merah
bernyala nyala bernanah
kepedihan

hanya jerit sakit di mana mana
hanya pusara tidak bertanda
tinggal airmata terus selamanya
tumpah melimpah
di bumi berdarah

di sini tidak lagi pernah ada
bunga bunga indah

malam ini siapakah lagi
yang bakal menemani
unggun api ini
hanya tinggal bara
yang tidak pernah padam
percikannya sampai bila bila.

Tuesday, July 27, 2010

JANGAN BERSEDIH PERAWAN MALAM KU

Hujan malam datang lagi menyimbah
desir angin kian meresah gelisah
bertiuplah khabar dari jauh
kenangan pun
tersinggah indah

hujan bernyanyi
dedaun pun menari
ku dikedinginan malam
kau kah itu rindu
yang membawakan salam
dari dermaga luka
bercucuran air mata
tertumpah dibaju

ku dihiburkan resah hujan malam
lagu sendu dari sarat hasrat
kerinduan turun tertimpa melebat
daun daun bertebaran
hanya satu
kupunggut kusimpan
dimalam kelam
kusembunyikan
dalam hatiku
sejauh jauh
sedalam dalam
sentuhan warna
coretan lukisan
ilusi dan nyata

kekasih
usahlah bersedih
aku harap kau tahu itu
siapa kah dia perawan malam
yang sering kutunggu
menjelmalah
dalam mimpi mimpi sugulku.

Monday, July 26, 2010

HANYA SECEBIS SEDETIK SEKEPAL DOA PENGHARAPAN

Hanya tinggal secebis
sedetik ruang waktu
untuk kita membaca
mengenal
memerhatikan
dan bertanya juga
pada diri sendiri
kemana arah
pagi dan senja
berlalu

sedang sedetik itu
begitu pantas pergi
meninggalkan kita
yang sentiasa leka
terbangun dari mimpi
terpingga pinga pelupa
kemana arah
pohon hati ini
condong

dari secebis
sesingkat waktu
tertangguh
adalah ruang penuh
kesalan sungguh
untuk kita memohon
sejuta kemaafan
tertebuskah ia
tertimbuskah ia
dengan sekadar
hanya ingatan
melimpah
jenuh

hanya satu
atas dasar cinta apa
yang mungkin meletakkan aku
terbuang di mana mana

kekasih
Seikhlas aku menerima sakit ini
dan tawakal aku berserah diri
bersujud padaMu
di lantai bumi
berbumbungkan langit
kurenangi seluas lautan
terdampar di pantai
hanya berbekal sekepal doa
tulus pengharapan.

Sunday, July 25, 2010

HANYA PADAMU AKU BERSERAH

Bangun kita hari ini
dari simpul kehidupan
luka luka derita
dari celah ragam
anika warna
yang pernah kita lukiskan
sepanjang perjalanan

kita susuli jalan kebenaran
lorong lorong kemaafan
dan kita mengharapkan
lahirnya ia kembali
dari segala ketenangan
kuntum kuntum indah
berkembang semula
mewangi

Hanya padaMu Ya Allah
aku berserah
bersandar diri
lahirkanlah keindahan
di hatiku kembali
bersama ketakwaan
keimanan sejati.

JEJAK JEJAK PENGEMBARA YANG PULANG

Aku kembali menjengukmu kasih
pada malam dingin
berbisik derai hujan
bagai musafir kewalahan
menentang badai di lautan
menongkah arus
penuh keyakinan
semuga masih ada ruang untukku
bercerita bagai dulu
lupakah kau padaku

penuh harapan
aku teruskan jua mencari
jejak jejak yang hilang
mencari ketenangan di pantai ini
seputih hamparan buih
menyimbah ke pasir bersih
burung burung laut pun bernyanyi lagi
menyambut kepulangan
para pejuang dulu
ke taman taman puisi
bangku kita
yang lama di tinggalkan
kerinduan terpendam
tertangguh

dengan lapang dada
kau masih tersenyum
disambut taburan bunga
sebak sendiri oleh ingatan dulu
kulafaskan sepenuh rasa
hasrat kembali bersuara
tapi keharuan masih terkedu
terdiam tertahan
tidak terkata
di merah senja tadi.

Monday, July 19, 2010

KEKASIHKU MERUNGKAI BUIH DI PESISIRAN

Kekasihku kesetiaan
Aku tidak pernah lupa
kulit kulit siput di pasir
debur ombak berkejar di lautan
serta batu batu tertegun
teguh pendirian
lumut hijau
indah impian

malam ini kunyanyikan laguku
cinta kita seluas alam
sebiru langit
tidak pernah terhenti
kehidupan yang masih kusandang
duri duri yang terpijak
aku masih berdiri
bertahan sakit
tapi aku tidak peduli

tidak mengapa sayangku
aku hanya digugah angin lalu
kesabaran

Kekasihku kesetiaan
Selamanya kau
masih kukenang
dan ketika janji itu
telah tertitip di hatiku
dan aku masih melihat wajahmu
sugul di bawah kerudung ungu
dalam tenang tersipu malu
menunggu tibanya
hujan hujan rindu
dalam sakit penuh
senyum payah

di pantai ini
aku terus menunggu
hanya kamu
aku pasti menanti
dan kisah kisah lalu kita
terlukis indah di ingatan
tidak pernah tergugat
oleh sebarang rayuan
nyanyi sang duyung
keasyikan memutih
aku hanya merungkai buih
kewajaran di pesisiran.

Sunday, July 11, 2010

DARI PENJARA JIWA

Dunia sentiasa berputar
tapi malam tetap kembali kepada malam
dan siang kembali kepada siang
lalu aku kembali kedalam sepiku dulu
sepi yang selamanya aku harus diam
melihat kesilapan demi kesilapan
yang pernah tertimpa
berkali kali

hanyalah kerana
aku tidak mungkin lagi
memiliki indahnya bunga bunga
sepanjang perjalanan
ke penjara jiwa ini

kata mereka
aku yang bersalah
aku lah yang harus
menerima padah
kerana melayarkan
kata kata pesona
sihir keasyikan
hanya mainan perasaan
ketagih indah

sakit sedu senja
luka menghiris jiwa
tertunggu tunggu
rindu suram malam
di bawah bulan terang
dan bertaburan bintang bintang
mereka ingin sekali
melihat sayap sayap bidadari
beterbangan tinggi.